All Products, Internist, Obstetric Gynecology, Surgery

BLOODSTOP iX

BloodSTOP iX

BloodSTOP® iX merupakan matriks hemostat yang berkualitas tinggi terbuat dari serat natural selulosa yang dimurnikan, dioksidasi dan di regenerasi. Apabila BloodSTOP® iX kontak dengan darah atau eksudat, akan berubah menjadi gel yang jernih yang kemudian berubah seperti area luka dan akan menutup luka.

 

KOMPOSISI
Serat natural esterifikasi selulosa yang teroksidasi.


INDIKASI
Luka topikal & luka pada operasi pada pendarahan – pendarahan kapiler, vena dan arteri kecil.


DOSIS
Gunakan sesuai kebutuhan.

BloodSTOP dapat dipakai langsung, dilipat atau dipotong sesuai kebutuhan.


KEMASAN
BloodSTOP iX – 27 1.3 x 5 cm ( kemasan isi 12 sachet )
BloodSTOP iX – 15 5 x 10 cm ( kemasan isi 12, isi 6 dan isi 3 sachet )

All Products, Internist, NSAID, Obstetric Gynecology, Surgery, Therapeutic

TRAMAZED

Tramazed

 

KOMPOSISI
Tiap tablet salut selaput mengandung:
Tramadol HCl 37,5 mg
Paracetamol 325 mg


CARA KERJA OBAT
Informasi dibawah ini berdasarkan studi tramadol tunggal atau asetaminofen tunggal, kecuali jika dinyatakan lain sebagai berikut:

Farmakodinamik
Tramadol adalah analgesik opioid sintetis yang bekerja pada susunan syarat pusat. Meskipun cara kerjanya belum dipahami secara jelas. Namun, diketahui 2 mekanisme yang saling terkait, yaitu dengan terikatnya senyawa induk dan metabolit M1 pada reseptor μ-opioid dan menghambat reuptake norepinefrin dan serotonin secara lemah. Asetaminofen Asetaminofen adalah non-opioid, non analgesik salisilat. Kelompok Khusus Ginjal Farmakokinetik tramadol tunggal pada pasien dengan kerusakan ginjal belum diketahui. Ekskresi tramadol dan metabolit M1 berkurang pada pasien dengan klirens kreatinin kurang dari 30 mL/menit, sehingga dianjurkan penyesuaian dosis pada pasien. (Lihat dosis dan penggunaan) Hati Farmakokinetik dan tolerabilitas dari tramadol tunggal pada pasien dengan kerusakan fungsi hati belum diketahui. Karena tramadol dan asetaminofen secara ekstensif dimetabolisme oleh hati, penggunaan tramadol pada pasien dengan kerusakan hati tidak dianjurkan (lihat perhatian dan dosis dan aturan pakai). Geriatrik Tidak ada perubahan signifikan pada farmakokinetik tramadol dan asetaminofen pada pasien usia lanjut dengan fungsi ginjal dan hati yang normal (lihat perhatian, penggunaan untuk geriatrik). Pediatrik Farmakokinetik tramadol dan asetaminofen belum diketahui pada pasien pediatrik dibawah usia 16 tahun.


INDIKASI
Tramazed diindikasikan untuk pengobatan nyeri akut jangka pendek.

POSOLOGI DAN ATURAN PEMAKAIAN
Kecuali diresepkan lain, Tramazed dapat diberikan dengan aturan dosis sebagai berikut:

DEWASA DAN ANAK DIATAS 16 TAHUN
Dosis tunggal maksimum Tramazed adalah 1 sampai 2 tablet tiap 4 sampai 6 jam sesuai kebutuhan untuk mengurangi nyeri sampai maksimal 8 tablet per hari. Tramazed dapat diberikan tanpa memperhatikan makanan.

PEDIATRIK (ANAK DI BAWAH 16 TAHUN)
Keamanan dan efektivitas dari Tramazed belum ditetapkan untuk kelompok pediatrik.

LANJUT USIA (GERIATRIK)
Tidak ada perbedaan signifikan terkait dengan keamanan atau farmakokinetik yang tercatat pada subyek ≥ 65 tahun dan subyek yang lebih muda.


PERINGATAN DAN PERHATIAN
RESIKO KEJANG
Kejang-kejang dilaporkan terjadi pada pasien yang menerima tramadol dalam rentang dosis yang dianjurkan. Dari laporan tersebut, menyebutkan bahwa resiko kejang meningkat dengan dosis tramadol di atas rentang dosis yang dianjurkan.
Penggunaan bersama tramadol meningkatkan resiko kejang pada pasien yang menggunakan:

  • Penghambat reuptake serotonin yang selektif (SSRI antidepresan atau anorektik)
  • Antidepresan trisiklik (TCA) dan senyawa trisiklik lainnya (contoh: cyclobenzaprine, promethazine, dll) atau,
  • Senyawa opioid lainnya.

Penggunaan tramadol dapat juga meningkatkan resiko kejang pada pasien yang menggunakan:

  • Penghambat MAO (lihat juga peringatan
  • penggunaan bersama penghambat MAO)
  • Neuroleptik atau,
  • Obat-obat lainnya yang mengurangi ambang kejang.

Resiko kejang juga meningkat pada pasien dengan epilepsi, pasien yang memiliki riwayat kejang, atau pada pasien dengan resiko yang diketahui menyebabkan kejang (seperti cedera kepala, gangguan metabolisme, alkohol dan gejala putus obat, infeksi CNS). Pada overdosis tramadol, penggunaan nalokson dapat meningkatkan resiko kejang.

REAKSI ANAFILAKSIS
Reaksi anafilaksis yang serius dan fatal jarang dilaporkan pada pasien yang menerima terapi dengan tramadol. Kejadian ini dapat terjadi setelah dosis pertama. Reaksi alergi lainnya yang dilaporkan termasuk pruritus, gatal-gatal, bronkospasme, angioedema, keracunan nekrolisis epidermal dan sindrom Steven Johnson. Pasien dengan riwayat reaksi anafilaksis terhadap kodein dan opioid lainnya dapat meningkatkan resiko anafilaksis dan sebaiknya tidak menggunakan Tramazed (lihat kontraindikasi).

DEPRESI PERNAFASAN
Gunakan Tramazed dengan hati-hati pada pasien dengan resiko depresi pernafasan. Pada pasien-pasien ini alternatif analgesik non-opioid harus dipertimbangkan. Bila sejumlah besar dosis tramadol digunakan dengan pengobatan anestesi atau alkohol, depresi pernafasan mungkin terjadi. Depresi pernafasan harus ditangani dengan penanganan terhadap overdosis. Jika nalokson harus diberikan, gunakan dengan hati-hati karena dapat memicu kejang. (lihat peringatan, resiko kejang dan overdosis).

INTERAKSI DENGAN DEPRESAN SISTEM SARAF PUSAT (SSP)
Tramazed harus digunakan dengan hati-hati dan dosis dikurangi bila diberikan pada pasien yang menerima obat yang menekan SSP seperti alkohol, opioid, anestetik, narkotika, fenotiazin, tranquilizer atau obat penenang. Tramadol meningkatkan resiko depresi SSP dan pernafasan pada pasien tersebut.

PENINGKATAN TEKANAN INTRAKRANIAL ATAU TRAUMA KEPALA
Tramazed harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan tekanan intrakranial yang meningkat atau cedera kepala. Efek depresan pernafasan opioid termasuk retensi karbon dioksida dan elevasi sekunder dari tekanan cairan serebrospinal dan dapat ditandai dengan kelebihan cairan pada pasien tersebut. Selain itu, perubahan papiler (miosis) dari tramadol dapat mengaburkan keberadaan, tingkatan atau perjalanan patologi intrakranial. Tenaga klinis juga harus mempertahankan indeks kecurigaan yang tinggi untuk reaksi obat yang merugikan ketika mengevaluasi perubahan status mental pada pasien tersebut jika mereka menerima Tramazed. (lihat depresan pernafasan)

PENGGUNAAN PADA PASIEN RAWAT JALAN
Tramadol mempengaruhi mental dan atau fisik pada pekerjaan yang berpotensi berbahaya seperti mengendarai mobil atau mengoperasikan mesin. Oleh karena itu, pasien yang menggunakan obat ini harus diberitahu dengan jelas.

PENGGUNAAN DENGAN PENGHAMBAT MAO DAN PENGHAMBAT REUPTAKE SEROTONIN
Gunakan Tramazed dengan hati-hati pada pasien yang menggunakan penghambat monoamin oksidase. Penggunaan bersama tramadol dengan penghambat MAO atau SSRI meningkatkan resiko efek samping termasuk kejang dan sindrom serotonin.

PENGGUNAAN DENGAN ALKOHOL
Tramazed tidak boleh digunakan bersamaan dengan penggunaan alkohol. Penggunaan Tramazed pada pasien dengan penyakit hati tidak dianjurkan.

PENGGUNAAN DENGAN PRODUK LAINNYA YANG MENGANDUNG ASETAMINOFEN
Karena potensi hepatotoksisitas pada asetaminofen dengan dosis lebih tinggi dari dosis yang dianjurkan, Tramazed tidak boleh digunakan bersamaan dengan produk lainnya yang mengandung asetaminofen.

PENGHENTIAN OBAT
Gejala penghentian obat dapat terjadi jika Tramazed dihentikan secara tiba-tiba, (lihat penyalahgunaan dan ketergantungan obat). Gejala-gejala ini meliputi: kecemasan, berkeringat, sulit tidur, kaku, nyeri, mual, tremor, diare, gejala pernafasan atas, piloereksi, dan yang jarang terjadi halusinasi. Gejala lainnya yang sering terlihat meskipun cukup jarang dengan penghentian Tramazed meliputi: rasa panik, kecemasan yang parah, dan parestesia. Gejala penghentian obat dapat dihindari dengan penurunan dosis Tramazed sebelum menghentikan penggunaan.

KETERGANTUNGAN FISIK DAN PENYALAHGUNAAN
Tramadol dapat menyebabkan ketergantungan fisik dan psikis jenis morfin (μ-opioid) (lihat Penyalahgunaan dan Ketergantungan Obat). Tramadol tidak boleh digunakan pada pasien yang mengalami ketergantungan opioid. Tramadol menunjukkan reinisiasi ketergantungan fisik pada beberapa pasien yang sebelumnya mengalami ketergantungan terhadap opioid lain. Ketergantungan dan penyalahgunaan, dapat berupa kebiasaan mendapatkan obat dan melakukan tindakan terlarang untuk mendapatkan obat tidak terbatas pada pasien dengan riwayat ketergantungan opioid.

RESIKO OVERDOSIS
Potensi serius akibat overdosis tramadol antara lain depresi SSP, depresi pernafasan dan kematian. Dalam menangani overdosis, utamakan ventilasi yang cukup bersamaan dengan terapi pembantu umum lainnya (lihat overdosis). Potensi serius akibat overdosis asetaminofen adalah nekrosis hati (centrilobular), menyebabkan gagal hati dan kematian. Bantuan darurat harus segera diberikan dan segera lakukan pengobatan apabila dicurigai terjadinya overdosis, walaupun gejalanya belum muncul.

PENCEGAHAN
Umum Dosis Tramazed tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan. Jangan menggunakan Tramazed dengan tramadol lain atau produk yang mengandung asetaminofen (lihat peringatan, Penggunaan dengan produk yang mengandung Asetaminofen dan resiko Overdosis).

PENGGUNAAN PADA PEDIATRIK
Keamanan dan efektivitas Tramazed belum diketahui pada pediatrik.

PENGGUNAAN PADA GERIATRIK
Secara umum, pemilihan dosis untuk pasien lanjut usia harus berhati-hati, dengan mempertimbangkan frekuensi penurunan fungsi hati, ginjal atau jantung lebih besar; adanya penyakit lain dan menjalani terapi sejumlah obat.

KONDISI ABDOMINAL AKUT
Penggunaan Tramazed dapat menyebabkan komplikasi pengujian klinis pada pasien dengan kondisi abdominal akut.

PENGGUNAAN PADA PENYAKIT GINJAL
Belum ada studi penggunaan tramadol pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Penggunaan tramadol pada gangguan fungsi ginjal menyebabkan penurunan laju dan meningkatkan ekskresi tramadol dan metabolit aktif, M1. Pada pasien dengan klirens kreatinin kurang dari 30 mL/menit, dianjurkan menggunakan interval dosis Tramazed tidak boleh melebihi 2 tablet setiap 12 jam.

PENGGUNAAN PADA PENYAKIT HATI
Belum ada uji studi pada pasien dengan kerusakan fungsi hati. Penggunaan Tramazed pada pasien dengan gangguan hati tidak dianjurkan (lihat peringatan, penggunaan dengan alkohol).

INFORMASI UNTUK PASIEN

  • Tramazed dapat menurunkan kemampuan mental atau fisik yang diperlukan untuk melakukan tugas yang berpotensi membahayakan seperti mengendarai kendaraan atau mengoperasikan mesin.
  • Tramazed tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan minuman yang mengandung alkohol.
  • Pasien harus di instruksikan untuk tidak mengkonsumsi Tramazed dalam kombinasi dengan produk yang mengandung tramadol atau asetaminofen lainnya, termasuk sediaan obat OTC.
  • Tramazed harus digunakan dengan hati-hati saat menggunakan obat seperti obat penenang, hipnotik atau opioid yang mengandung analgesik lainnya.
  • Pasien harus di instruksikan untuk menghubungi dokter jika dalam keadaan hamil, kemungkinan hamil, atau berencana hamil (lihat pencegahan, persalinan dan kelahiran).
  • Pasien harus memahami dosis tunggal dan batas dosis dalam 24 jam dan jarak waktu antara dosis, karena dosis melebihi anjuran dapat mengakibatkan depresi pernapasan, kejang, keracunan hati dan kematian.

EFEK SAMPING
Efek samping yang paling sering dilaporkan terjadi pada susunan saraf pusat dan sistem pencernaan, antara lain mual, pusing dan mengantuk. Selain itu, hal berikut ini dapat terjadi, walaupun secara umum frekuensinya lebih rendah:

  • Tubuh secara keseluruhan – astenia, kelelahan, muka memerah.
  • Sistem saraf pusat dan tepi – nyeri kepala, tremor.
  • Sistem pencernaan – nyeri perut, sembelit, diare, dispepsia, kembung, mulut kering, muntah.
  • Kelainan psikiatri – anoreksia, kecemasan, kebingungan, euforia, insomnia, gugup.
  • Kulit dan sekitarnya – gatal, ruam, keringat berlebih.

Efek samping yang jarang dilaporkan namun signifikan secara klinis dengan sedikitnya satu kemungkinan penyebab yang berhubungan dengan Tramazed, meliputi:

  • Tubuh secara keseluruhan – nyeri dada, kaku, pingsan, sindrom putus obat. Kelainan kardiovaskular – hipertensi, hipertensi yang memburuk, hipotensi.
  • Sistem saraf pusat dan tepi – ataksia, konvulsi, hipertonia, migren, migren yang memburuk, kontraksi otot involunter, parestesia, pingsan, vertigo.
  • Sistem pencernaan – disfagia, melena, edema lidah.
  • Kelainan pendengaran dan kesetimbangan – tinnitus.
  • Kelainan irama dan denyut jantung – aritmia, palpitasi, takikardia. Sistem hati dan empedu – kelainan tes fungsi hati.
  • Kelainan metabolik dan nutrisi – penurunan berat badan. Kelainan psikiatrik – amnesia, depersonalisasi, depresi, penyalahgunaan obat, emosi labil, halusinasi, impotensi, mimpi buruk, pikiran abnormal. Kelainan sel darah merah – anemia.
  • Sistem pernapasan – dyspnea.
  • Sistem kemih – albuminuria, gangguan berkemih, oliguria, retensi urin.
  • Kelainan penglihatan – penglihatan abnormal.

Efek samping lainnya
Efek samping lainnya yang telah dilaporkan pada penggunaan produk tramadol meliputi: hipotensi ortostatik, reaksi alergi (termasuk anafilaksis dan urtikaria, Stevens Johnson Syndrome/TENS), disfungsi kognitif, kecenderungan bunuh diri dan hepatitis. Kelainan laboratoris meliputi meningkatnya kreatinin. Sindrom serotonin (di mana gejalanya meliputi demam, eksitasi, menggigil dan agitasi) telah dilaporkan dengan penggunaan tramadol ketika digunakan bersama dengan agen serotonergik lainnya seperti SSRI dan MAO-inhibitor. Pengawasan post-marketing dari tramadol menunjukkan perubahan yang jarang terhadap efek dari warfarin, termasuk peningkatan dari waktu protrombin.

Efek samping lainnya.
Reaksi alergi (terutama ruam kulit) atau laporan dari hipersensitivitas sekunder terhadap asetaminofen adalah jarang dan umumnya diatasi dengan penghentian pemberian obat, dan bila perlu pengobatan simptomatik. Ada beberapa laporan yang menunjukkan bahwa asetaminofen dapat menyebabkan hipoprotrombinemia bila diberikan dengan senyawa seperti warfarin. Pada penelitian lain, waktu protrombin tidak berubah.


KONTRAINDIKASI
Tramazed tidak boleh diberikan pada pasien yang sebelumnya pernah menunjukkan hipersensitivitas terhadap tramadol, asetaminofen, dan komponen lainnya pada produk ini atau opioid. Obat ini juga di kontraindikasi terhadap kontraindikasi pada opioid lain, termasuk intoksikasi akut tanpa adanya kasus intoksikasi akut dengan alkohol, hipnotik, narkotik, analgesik yang bekerja sentral, opioid, atau obat-obatan psikotropika.


INTERAKSI OBAT
PENGGUNAAN DENGAN PENGHAMBAT MAO DAN PENGHAMBAT REUPTAKE SEROTONIN
Interaksi dengan Penghambat MAO dilaporkan untuk beberapa obat yang bekerja sentral.

PENGGUNAAN DENGAN CARBAMAZEPINE
Pemberian bersamaan antara tramadol hidroklorida dan carbamazepine menyebabkan peningkatan yang signifikan pada metabolisme tramadol. Pasien yang mendapat pengobatan carbamazepine mengalami penurunan efek analgesik yang signifikan dari komponen tramadol pada Tramazed.

PENGGUNAAN DENGAN QUINIDINE
Tramadol dimetabolisme menjadi M1 oleh CYP12D6. Penggunaan quinidine bersama dengan tramadol meningkatkan konsentrasi tramadol. Konsekuensi klinis akibat temuan ini belum diketahui.

PENGGUNAAN DENGAN SENYAWA SEPERTI WARFARIN
Untuk pengobatan yang tepat, lakukan evaluasi secara periodik waktu protrombin secara berkala apabila digunakan bersama dengan Tramazed, yang dilaporkan meningkatkan INR pada beberapa pasien.

PENGGUNAAN DENGAN INHIBITOR CYP2D6
Pemberian bersamaan dengan inhibitor CYP2D6 seperti fluoksetin, paroksetin, dan amitriptilin dapat menghambat metabolisme tramadol.

PENGGUNAAN DENGAN CIMETIDINE
Penggunaan Tramazed dan cimetidine secara bersamaan belum dipelajari. Pemberian bersama tramadol dan simetidin tidak mengakibatkan perubahan yang signifikan pada farmakokinetik tramadol.


KEHAMILAN DAN LAKTASI
Tramadol terbukti dapat melewati plasenta. Tidak ada penelitian pada wanita hamil. Penggunaan yang aman dalam kehamilan belum ditetapkan. Tramazed tidak dianjurkan untuk ibu menyusui karena keamanannya pada bayi dan bayi baru lahir belum diteliti.


EFEK PADA KEMAMPUAN BERKENDARA DAN MENGGUNAKAN MESIN
Tramazed dapat menurunkan kemampuan mental atau fisik yang diperlukan untuk aktivitas yang berpotensi membahayakan seperti mengendarai mobil atau mengoperasikan mesin.


KELEBIHAN DOSIS
Tramazed adalah produk kombinasi. Presentasi klinis dari kelebihan dosis dapat meliputi tanda dan gejala dari keracunan tramadol, keracunan asetaminofen atau keduanya. Gejala awal yang terlihat dalam 24 jam pertama setelah kelebihan dosis asetaminofen dapat meliputi: iritasi pencernaan, anoreksia, mual, muntah, lemas, pucat dan diaforesis.

PENGALAMAN PENGGUNAAN PADA MANUSIA
Tramadol Potensi serius akibat kelebihan dosis komponen tramadol adalah depresi pernapasan, lesu, koma, kejang, serangan jantung dan kematian. Asetaminofen Kelebihan dosis yang besar pada penggunaan asetaminofen menyebabkan keracunan hati pada beberapa pasien. Gejala awal setelah kelebihan dosis yang berpotensi hepatotoksik meliputi: iritasi pencernaan, anoreksia, mual, muntah, pucat dan diaforesis. Bukti klinis dan laboratoris dari keracunan hati mungkin tidak tampak jelas hingga 48-72 jam setelah dikonsumsi.

PENGOBATAN
Kelebihan dosis single atau multiple pada Tramazed dapat berpotensi mematikan bila kelebihan dosis lebih dari satu obat, dan dianjurkan konsultasi dengan ahli yang tepat, jika ada. Gejala yang disebabkan overdosis tramadol, resiko kejang juga meningkat pada pemberian nalokson. Berdasarkan pengalaman dengan tramadol, hemodialisis tidak akan membantu dalam penanganan overdosis karena hanya membuang 7% dari dosis yang diberikan dalam jangka waktu dialisis 4 jam. Dalam menangani kelebihan dosis Tramazed, utamakan ventilasi yang cukup bersamaan dengan terapi pembantu umum lainnya. Tindakan harus segera dilakukan untuk mengurangi penyerapan obat. Muntah harus diinduksi secara mekanik, atau dengan sirup ipekak, jika pasien sadar (refleks faringeal dan laryngeal cukup). Pemberian oral arang murni (1g/kg) harus diikuti pengosongan lambung. Dosis pertama harus dibarengi dengan obat pencahar yang sesuai. Jika dosis berulang digunakan, obat pencahar dapat diberikan dengan dosis alternatif yang sesuai. Hipotensi pada umumnya disebabkan oleh hipovolemik dan seharusnya merespon terhadap pemberian cairan. Vasopresor dan tindakan pendukung lainnya harus digunakan sesuai indikasi. Tabung endo tracheal harus dimasukkan sebelum pembilasan lambung pada pasien yang tidak sadar, dan jika diperlukan, berikan nafas bantuan. Pada pasien dewasa dan anak, setiap individu yang tidak mengetahui jumlah asetaminofen yang dikonsumsi atau dengan riwayat yang dipertanyakan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan tentang waktu konsumsi lakukan pemeriksaan kadar plasma asetaminofen dan obati dengan asetilsistein. Jika kadar tidak dapat diperoleh dan asetaminofen yang dikonsumsi diperkirakan melebihi 7,5 sampai 10 gram untuk dewasa dan remaja atau 150 mg/kg untuk anak-anak, N-asetilsistein harus segera diberikan dan dilanjutkan dengan serangkaian terapi.


Simpan pada suhu di bawah 30 ºC
Waktu simpan: 3 tahun

Kemasan: Dus, 3 Blister @ 6 Tablet salut selaput
Reg. No. DKL 1616112217 A1

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

All Products, Internist, Pediatric

ANALSPEC

ANALSPEC 500

 

KOMPOSISI
Asam mefenamat 500 mg


CARA KERJA OBAT
Mefenamic acid merupakan kelompok antiinflamasi non steroid, bekerja dengan cara menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim siklooksigenase sehingga mempunyai efek analgesik, antiinflamasi dan antipiretik.


INDIKASI
Untuk menghilangkan rasa nyeri dari ringan sampai sedang dalam kondisi akut dan kronik, termasuk nyeri karena trauma, nyeri sendi, nyeri otot, sakit sehabis operasi dan melahirkan, nyeri sewaktu haid, sakit kepala dan sakit gigi juga sebagai antipiretik pada keadaan demam.


DOSIS
Dewasa dan anak dengan dosis awal yang dianjurkan 1 kaplet, kemudian ½ kaplet tiap 6 jam


KONTRA INDIKASI
Pada penderita tukak lambung/usus, penderita asma, penderita gangguan fungsi ginjal dan penderita hipersensitif terhadap Mefenamic acid.


EFEK SAMPING
Umumnya ANALSPEC® dapat ditolerir dengan baik pada dosis yang dianjurkan. Pada beberapa kasus pernah dilaporkan terjadinya rasa mual, muntah, dan diare. Pada penggunaan jangka panjang yang terus menerus dengan dosis 2000mg atau lebih sehari dapat mengakibatkan agranulositosis dan anemia hemolitik.


INTERAKSI OBAT
Penggunaan bersamaan dengan antikoagulan oral dapat memperpanjang “Prothrombin”.


PERINGATAN PERHATIAN

  • Jangan diberikan pada penderita yang mendapat bronkospasme, rhinitis alergika atau urtikaria karena obat antiinflamasi non steroid yang lain karena kemungkinan terjadi sensitifitas silang.
  • Jangan diberikan pada wanita hamil dan menyusui.
  • Keamanan pemakaian pada anak-anak di bawah usia 14 tahun belum diketahui dengan pasti.
  • Jangan diberikan lebih dari dosis yang dianjurkan atau lebih dari 7 hari, kecuali atas petunjuk dokter.
  • Efek Kardiovaskuler
    • Kejadian trombotik Kardiovaskuler:
      Uji klinis dengan berbagai COX-2 dan AINS non-selektif sampai dengan tiga tahun menunjukkan peningkatan risiko trombotik kardiovaskuler (KV) serius, infark miokard, dan stroke, yang dapat berakibat fatal. Semua AINS, baik COX-2 selektif maupun non selektif, dapat menyebabkan risiko yang sama. Risiko meningkat pada pasien dengan penyakit KV atau memiliki faktor risiko penyakit KV. Untuk mengurangi risiko efek samping tersebut, AINS harus diberikan dengan dosis efektif terendah dan lama pengobatan sesingkat mungkin. Dokter dan pasien harus waspada terhadap terjadinya efek samping tersebut, walaupun tidak ada gejala KV sebelumnya. Pasien harus diberi informasi mengenai tanda dan/atau gejala KV serius dan langkah yang harus dilakukan jika tanda dan/atau gejala tersebut muncul.
      Tidak ada bukti bahwa penggunaan bersama asetosal dapat mengurangi peningkatan risiko efek samping trombotik KV serius oleh AINS. Penggunaan AINS bersama dengan acetosal justru meningkatkan risiko efek samping serius pada saluran cerna. (Lihat PERINGATAN Saluran Cerna). Dua uji klinis yang besar dan ber pembanding dengan AINS yang COX-2 selektif untuk pengobatan nyeri 10-14 hari setelah bedah pintas koroner menunjukkan peningkatan kejadian infark miokard dan stroke.
    • Hipertensi:
      AINS, termasuk Mefenamic acid, dapat menyebabkan munculnya hipertensi baru atau mempercepat hipertensi yang sudah ada yang dapat berakibat pada peningkatan efek samping KV. AINS dapat menurunkan efek antihipertensi tiazid atau diuretik kuat. AINS, termasuk Mefenamic acid, harus digunakan dengan hati-hati pada pasien hipertensi. Tekanan darah harus di monitor sejak awal selama terapi dengan AINS.
    • Gagal Jantung Kongestif dan Edema
      Retensi cairan dan edema telah terlihat pada sebagian pasien yang menggunakan AINS. Mefenamic acid harus digunakan dengan hati hati pada pasien dengan retensi cairan atau gagal jantung.
  • Saluran Cerna – Risiko Ulserasi, Perdarahan, dan Perforasi:
    AINS, termasuk Mefenamic acid, dapat menyebabkan efek samping saluran cerna serius termasuk inflamasi, perdarahan, ulserasi, dan perforasi lambung dan usus yang dapat berakibat fatal. Efek samping serius ini dapat terjadi kapanpun, dengan atau tanpa gejala peringatan. Hanya satu dari 5 pasien yang mengalami efek samping serius pada saluran cerna atas menunjukkan gejala. Ulkus pada saluran cerna atas , perdarahan, atau perforasi yang disebabkan AINS terjadi pada kisaran 1% pasien yang diobati selama 3-6 bulan, dan pada kira-kira 2-4% pasien yang diobati selama satu tahun. Penggunaan yang lebih lama cenderung meningkatkan kemungkinan terjadinya efek samping saluran cerna serius. Namun terapi jangka pendek bukan berarti tanpa risiko.
    AINS harus diresepkan dengan sangat hati-hati pada pasien yang memiliki riwayat penyakit tukak atau perdarahan saluran cerna. Pasien dengan riwayat tukak peptik dan atau perdarahan saluran cerna yang menggunakan AINS memiliki risiko terjadinya perdarahan saluran cerna 10 kali lipat dibandingkan dengan pasien tanpa faktor risiko tersebut. Faktor lain yang meningkatkan risiko perdarahan saluran cerna adalah penggunaan bersama kortikosteroid atau antikoagulan oral, penggunaan AINS yang lama, merokok, penggunaan alkohol, usia lanjut, dan status kesehatan yang buruk. Sebagian besar laporan spontan efek samping saluran cerna fatal terjadi pada pasien usia lanjut atau pasien yang lemah. Oleh karena itu, perhatian khusus harus diberikan dalam mengobati populasi ini. Untuk mengurangi risiko efek samping saluran cerna pada pasien yang diobati dengan AINS, dosis efektif terendah harus diberikan dengan lama pengobatan sesingkat mungkin. Dokter dan pasien harus waspada terhadap tanda dan gejala ulserasi dan perdarahan saluran cerna selama terapi dengan AINS, jika dicurigai adanya efek samping saluran cerna yang serius, segera dilakukan evaluasi serta pengobatan tambahan. Untuk pasien berisiko tinggi, terapi alternatif yang tidak melibatkan AINS dapat dipertimbangkan.

KEMASAN
Box, isi 10 strip @ 10 kaplet salut selaput

Reg. No. DKL 9116105609 B1

Simpan pada suhu di bawah 30 oC

All Products, Internist, NSAID, Therapeutic

XEPATHRITIS

 

KOMPOSISI
Tiap tablet salut enterik mengandung:
Diclofenac Sodium 50 mg


CARA KERJA OBAT

Diclofenac adalah golongan obat non-steroid dengan aktivitas anti-inflamasi, analgesik dan antipiretik. Aktivitas Diclofenac dengan jalan menghambat enzim siklooksigenase sehingga pembentukan prostaglandin terhambat.


INDIKASI
Pengobatan akut dan kronis gejala-gejala reumatoid artritis, osteoartritis dan ankilosing spondilitis.


KONTRAINDIKASI

  • Penderita yang hipersensitif terhadap Diclofenac atau yang menderita asma, urtikaria atau alergi pada pemberian aspirin atau NSAID lain. Ÿ
  • Penderita tukak lambung.

EFEK SAMPING
Efek samping yang umum terjadi seperti nyeri/ kram perut, sakit kepala,retensi cairan, diare, nausea, konstipasi, flatulen, kelainan pada hasil uji hati, indigesti, tukak lambung, pusing, ruam, pruritus dan tinitus. Peninggian enzim-enzim aminotransferase (SGOT, SGPT) hepatitis. Dalam kasus terbatas gangguan hematologi (trombositopenia, leukopenia, anemia, agranulositosis).


DOSIS DAN CARA PEMAKAIAN

  • Osteoartritis : 50 mg, 2 – 3 kali sehari atau 75 mg, 2 kali sehari. Ÿ
  • Reumatoid artritis : 50 mg, 3 – 4 kali sehari atau 75 mg, 2 kali sehari. Ÿ
  • Ankylosing spondylitis : 25 mg, 4 kali sehari, ditambahkan 25 mg saat akan tidur malam.

Tablet harus ditelan utuh dengan air sebelum makan.


PERINGATAN DAN PERHATIAN

  • Hati-hati penggunaanpada penderita dekompensasi jantung atau hipertensi, karena Diclofenac dapat menyebabkan retensi cairan dan edema. Ÿ
  • Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi ginjal, jantung, hati, penderita usia lanjut dan penderita luka atau pendarahan pada saluran pencernaan. Ÿ
  • Hati-hati penggunaan selama kehamilan trimester akhir karena dapat menghambat kontraksi uterus dan menunda partus. Ÿ
  • Pada wanita yang sedang menyusui, agar dipertimbangkan adanya efek samping meskipun jumlah yang terekskresi dalam air susu kecil. Ÿ
  • Pada anak-anak efektivitas dan keamanannya belum diketahui dengan pasti.

INTERAKSI OBAT

  • Penggunaan bersama aspirin akan menurunkan konsentrasi plasma dan AUC Diclofenac. Ÿ
  • Diclofenac meningkatkan konsentrasi plasma digoksin, metotreksat, siklosporin dan litium sehingga mengingkatkan toksisitasnya. Ÿ
  • Diclofenac menurunkan aktivitas obat-obatan diuretik.

KEMASAN
Dus, 10 Strip @ 10 Tablet Salut Enterik
Reg. No. DKL8716103315A1

SIMPAN PADA SUHU DI BAWAH 30 ºC

HARUS DENGAN RESEP DOKTER

All Products, Internist, Pediatric

COUGH-EN Syrup

COUGH-EN SYRUP 60

  • Tidak boleh diberikan pada penderita yang peka terhadap obat simpatomimetik lain (misal efedrin, pseudoefedrin, fenilefrin), penderita tekanan darah tinggi berat dan yang mendapat terapi obat antidepresan tipe penghambat Monoamine Oxidase (MAO).
  • Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita tekanan darah tinggi atau yang mempunyai potensi tekanan darah tinggi atau stroke, seperti pada penderita dengan berat badan berlebih (overweight) atau penderita usia lanjut.
  • Bila dalam 3 hari gejala flu tidak berkurang segera hubungi dokter atau unit pelayanan kesehatan.
  • Hentikan penggunaan obat ini jika terjadi susah tidur, jantung berdebar dan pusing.

 

KOMPOSISI
Tiap 5 mL mengandung:

Phenylpropanolamine HCL 15 mg
Chlorpheniramine maleate 2 mg
Ammonium chloride 90 mg
Sodium citrate 40 mg
Etanol 7%

FARMAKOLOGI
Bekerja sebagai antitusif, antihistamin, ekspektoran dan dekongestan hidung.


BENTUK SEDIAAN
Sirup


INDIKASI
Untuk meringankan batuk berdahak dan pilek.


DOSIS

  • Dewasa: 3 kali sehari 1 sendok sehari;
  • Anak 6 – 12 tahun : 3 kali sehari ½ sendok teh

KONTRA INDIKASI

  • Lihat Box Warning
  • Penderita dengan gangguan jantung dan diabetes mellitus.
  • Penderita yang hipersensitif terhadap komponen obat.

PERINGATAN PERHATIAN

  • Lihat Box Warning
  • Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi hati dan ginjal, glaukoma, hipertrofi prostat, hipertiroid dan retensi urin.
  • Tidak dianjurkan pada penggunaan pada usia di bawah 6 tahun, wanita hamil dan menyusui, kecuali atas petunjuk dokter.
  • Selama minum obat ini tidak boleh mengendarai kendaraan bermotor atau menjalankan mesin.
  • Hati-hati penggunaan bersamaan dengan obat-obat lain yang menekan susunan saraf pusat.

INTERAKSI OBAT
Penggunaan bersama antidepresan tipe penghambat MAO dapat menyebabkan krisis hipertensi.

DAPAT MENYEBABKAN KANTUK


KEMASAN
Botol, 60 mL

Reg. No. DTL 7216110037A1

Simpan pada suhu di bawah 30° C