METXIME

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email
Share on print
METXIME vial Cefotaxime, Metiska Farma
KOMPOSISI
Tiap vial mengandung:
Cefotaxime sodium steril setara dengan Cefotaxime 1 g

Cefotaxime merupakan antibiotik golongan sefalosporin yang mempunyai spektrum antibakteri yang luas terhadap bakteri gram positif dan gram negatif.
Cefotaxime memiliki efek bakterisidal yang menghambat sintesis dinding bakteri. Cefotaxime stabil terhadap β-laktamase, baik penisilinase maupun sefalosporinase dari bakteri gram positif dan gram negatif.
Cefotaxime aktif secara in vitro dan secara klinis terhadap mikroorganisme sebagai berikut:

Aerob
Gram positiv:

  • Staphylococcus aureus, termasuk strain-strain penghasil penisilinase dan non-penisilinase
  • Staphylococcus epidermidis
  • Enterococcus sp.
  • Streptococcus pyogenase (Grup A β-hemolitic streptococci)
  • Streptococcus agalactiae (Grup B Streptococci)
  • Streptococcus pneumoniae (Diplococcus pneumoniae)

Gram negativ:

  • Citrobacter sp.
  • Enterobacter sp.
  • Escherichia coli
  • Haemophilus influenzae (termasuk H. influenzae resisten ampisilin)
  • Haemophilus parainfluenzae
  • Klebsiella sp (termasuk K. Pneumoniae)
  • Neisseria meningitidis
  • Neisseria gonorrhoeae (termasuk strain-strain penghasil penisilinase dan non penisilinase)
  • Proteus mirabilis
  • Proteus vulgaris
  • Proteus inconstans
  • Pseudomonas aeruginosa
  • Morganella morganii
  • Providencia rettgeri
  • Serratia sp.
  • Acinetobacter sp.

Anaerob

  • Bacterioides sp. (termasuk beberapa strain B. fragilis)
  • Fusobacterium sp. (termasuk F. nucleatum)
  • Peptococcus sp.
  • Peptostreptococcus sp.
  • Clostridium sp. (sebagian besar strain difficile resisten)

INDIKASI

  • Cefotaxime diindikasikan untuk pengobatan infeksi serius yang disebabkan oleh strain-strain mikroorganisme yang sensitif pada kondisi berikut:
  • Infeksi saluran nafas bagian bawah (termasuk pneumonia)
  • Infeksi saluran urogenital dan gonore (terutama jika resisten terhadap penisilin).
  • Infeksi kulit dan jaringan lunak.
  • Infeksi kandungan termasuk inflamasi pelvik, endometritis dan selulitis pelvik.
  • Infeksi intra-abdominal termasuk peritonitis.
  • Infeksi tulang dan atau persendian
  • Infeksi sistem saraf pusat, antara lain meningitis dan ventrikulitis.

KONTRAINDIKASI
Penderita yang hipersensitif terhadap antibiotik golongan sefalosporin.

Dosis, cara dan frekuensi pemberian tergantung pada beratnya infeksi, sensitifitas bakteri penyebab dan kondisi penderita (lihat tabel dosis).
Pengobatan dapat dimulai sebelum hasil uji sensitifitas diketahui.
Neonatus (bayi sampai usia 1 bulan):
Usia 0 – 1 minggu: 50 mg/ kg BB (i.v.) tiap 12 jam.
Usia 1 – 4 minggu: 50 mg/ kg BB (i.v.) tiap 8 jam.
Bayi dan anak usia 1 bulan – 12 tahun:
Berat badan < 50 kg: 50 – 180 mg/kg BB/hari (i.m./ i.v.) dalam dosis terbagi 4 – 6 bagian. Dosis yang lebih tinggi diberikan untuk infeksi berat, termasuk meningitis. Berat badan > 50 kg: sama dengan dosis lazim untuk dewasa (dosis maksimum 12 gram/hari).
12 tahun ke atas – dewasa: 1 g setiap 12 jam, pada infeksi yang serius dosis dapat ditingkatkan sampai 2 x 2 g sehari.
Jika diperlukan dosis per hari yang lebih tinggi, maka injeksi dapat diberikan dalam interval 6 – 8 jam.

JENIS INFEKSIDOSIS SEHARI
(gram)
RUTE & FREKUENSI
Infeksi tanpa komplikasi21 g tiap 12 jam i.m. atau i.v.
Infeksi sedang sampai infeksi serius3-61 – 2 tiap 8 jam i.m. atau i.v.
Infeksi yang membutuhkan dosis antibiotik lebih tinggi6-82 g tiap 6 – 8 jam i.v.
Infeksi yang mengancam jiwas/d 122 g tiap 4 jam i.v.

Untuk pengobatan gonore tanpa komplikasi diberikan cefotaxime 1 g secara intra muskular.
Pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang kurang sensitif, dosis dapat dinaikkan. Penderita harus diperiksa terhadap infeksi sifilis sebelum pengobatan dimulai. Untuk mencegah infeksi sewaktu dan sesudah operasi sebaiknya cefotaxime diberikan dengan dosis 1 – 2 g, 30 – 60 menit sebelum operasi dimulai.

Penderita dengan gangguan fungsi ginjal
Pasien dengan bersihan kreatinin ≤ 10 mL/ menit: dosis pemeliharaan untuk indikasi yang relevan sebaiknya dikurangi setengah dari dosis normal.
Pasien dengan bersihan kreatinin ≤ 5 mL/ menit: penurunan dosis pemeliharaan sampai 1 gram (dosis tunggal tiap interval 12 jam) tampaknya sesuai.

Rekomendasi ini berdasarkan pada pengalaman orang dewasa. Jangka waktu pengobatan tergantung dari perkembangan penyakit dan pengobatan sebaiknya dilanjutkan paling sedikit 3 hari setelah demam mereda.

Operasi Caesar

  • Dosis pertama: 1 g secara i.v. segera setelah tali pusat dijepit/ diklem.
  • Dosis kedua: 1 g secara i.v. atau i.m. 6 jam kemudian.
  • Dosis ketiga: 1 g secara i.v. atau i.m. 12 jam setelah dosis pertama diberikan.

Pencegahan pada infeksi pasca bedah, pada pembedahan terkontaminasi atau peluang terkontaminasi:
Dosis tunggal 1 g secara i.m. atau i.v. 30 – 90 menit sebelum pembedahan dimulai.

Lama pengobatan

Lamanya pengobatan tergantung dari respon penderita.

  • Secara umum: lanjutkan terapi sedikitnya 48 – 72 jam setelah suhu tubuh kembali normal atau setelah terbukti tidak ditemukan lagi bakteri penyebab penyakit.
  • Infeksi yang disebabkan oleh grup A β-hemolitic streptococci: minimum 10 hari.
  • Infeksi yang menetap: membutuhkan beberapa minggu pengobatan.

CARA PEMAKAIAN
METXIME® injeksi dapat diberikan secara intra vena dan intra muskular.

METXIME®Air steril untuk injeksi yang ditambahkan
1 g4 mL

Injeksi intra vena
Kocok dengan hati-hati selama dilarutkan. Kemudian diinjeksikan selama 3 – 5 menit langsung ke dalam vena atau bagian distal dari selang infus yang diklem.

Injeksi intra muskular
Injeksikan dalam-dalam pada otot gluteus. Untuk mencegah rasa sakit pada penyuntikan i.m.. Larutkan METXIME® dalam larutan lidokain 1%. Sediaan larutan METXIME® yang dipakai harus segar.

  • Reaksi lokal pada tempat suntikan.
  • Hipersensitivitas: ruam, pruritus, demam, urtikaria, eritema, multiforme, nekrolisis epidermal toksik, reaksi alergi akut yang serius (reaksi anafilaksis yang kadang-kadang sampai menimbulkan syok).
  • Saluran cerna: kolitis, diare, mual, muntah, nyeri abdomen.
  • Sistem hematologi: neutropenia, leukopenia, eosinofilia, trombositopenia, granulositopenia.
  • Sistem genital dan alat kemih : moniliasis, vaginitis.
  • Susunan saraf pusat: sakit kepala.
  • Ginjal : kenaikan sementara kreatinin dan urea dalam serum.
  • Hati : kenaikan enzim hati dalam serum (SGOT, SGPT, gamma GT, alkali fosfatase, LDH) dan bilirubin.

Pemberian antibiotik β-laktam dosis tinggi terutama pada penderita dengan gangguan ginjal, dapat menyebabkan ensefalopati (misalnya gangguan kesadaran, gerakan, yang abnormal, konvulsi).

  • Pada penderita dengan riwayat penyakit gastrointestinal dapat menyebabkan kolitis.
  • Pada penderita yang hipersensitif terhadap penisilin, kemungkinan terjadi sensitifitas silang.
  • Cefotaxime sodium sebaiknya tidak diberikan selama kehamilan, terutama tiga bulan pertama, kecuali bila ada indikasi yang memaksa.
  • Cefotaxime sodium diekskresikan ke dalam air susu, hati-hati penggunaannya pada ibu menyusui.
  • Agar dilakukan pemeriksaan fungsi ginjal pada penderita yang mendapatkan pengobatan bersama-sama dengan aminoglikosida.
  • Pemberian antibiotik (terutama) jangka panjang menyebabkan pertumbuhan mikroorganisme yang resisten. Oleh karena itu kondisi penderita harus dicek selama interval waktu tertentu.
  • Peringatan: nefrotoksisitas dilaporkan terjadi setelah pemberian sefalosporin bersama-sama dengan aminoglikosida.
  • Pemberian bersama-sama dengan probenesid dapat meningkatkan dan memperpanjang kerja cefotaxime dalam serum.
  • Uji Coombs positif palsu dapat terjadi pada penderita yang sedang mendapat pengobatan dengan cefotaxime.
  • Pemberian sefalosporin dapat menyebabkan penurunan konsentrasi estrogen dan gestagen dalam plasma yang bersifat sementara. Oleh karena itu efektifitas kontrasepsi oral (pil) menjadi tidak pasti.
  • Dapat memberikan hasil uji positif palsu pada penentuan glikosuria yang dilakukan dengan metode non-enzimatik. Oleh karena itu sebaiknya dilakukan secara enzimatik.
KEMASAN
Dus, Vial @ 1 g
Simpan di tempat kering, suhu di bawah 25 OC, terlindung dari cahaya.
Larutan injeksi disimpan pada suhu di bawah 25 OC selama tidak lebih dari 12 jam.