All Products, Antibiotic, Internist, Surgery, Therapeutic

RILEVO Infus

RILEVO Infus - Levofloxacin 500 mg
RILEVO Infus - Levofloxacin 500 mg

Golongan fluoroquinolone dapat menimbulkan peningkatan resiko terjadinya tendonitis dan tendon rupture pada pasien segala umur. Resiko tendonitis dan tendon rupture meningkat dengan bertambahnya umur terutama pada pasien yang berusia lebih dari 60 tahun, yang menerima terapi kortikosteroid pada waktu yang bersamaan dan pada pasien yang menerima transplantasi ginjal, jantung atau paru-paru.

Levofloxacin adalah salah satu derivat fluoroquinolone yang merupakan isomer dari ofloxacin. Mekanisme kerja dengan menghambat sub unit A DNA gyrase, yang menghambat replikasi dan transkripsi DNA bakteri.

Levofloxacin adalah antibiotik dengan spektrum luas yang aktif terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif termasuk bakteri anaerob. Juga aktif terhadap Chlamydia pneumoniae.

Konsentrasi plasma puncak setelah pemberian 500 mg Levofloxacin intravena adalah sekitar 6.4 mcg/ml. Levofloxacin secara luas didistribusikan ke seluruh tubuh dengan konsentrasi yang tinggi. Levofloxacin juga berpenetrasi dengan baik ke jaringan paru-paru dengan kadar yang lebih tinggi 2 – 5 kali daripada kadar di dalam plasma. Eliminasi Levofloxacin sebagian besar melalui urine (85 %) dalam bentuk yang tidak diubah, dengan waktu paruh eliminasi 6 – 8 jam.

Levofloxacin aktif (baik secara in-vitro serta infeksi klinis) terhadap mikroorganisme di bawah ini:

  • Mikroorganisme Gram positif aerob: Enterococcus faecalis, Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Streptococcus pyogenes.
  • Mikroorganisme Gram negatif aerob: Enterobacter cloacae, Escherichia coli, Haemophilus influenzae dan parainfluenzae, Klebsiella pneumoniae, Legionella pneumophila, Moraxella catarrhalis, Proteus mirabilis, Pseudomonas aeruginosa.
  • Mikroorganisme lain: Chlamydia pneumonia, Mycoplasma pneumonia.

KOMPOSISI
Tiap vial 100 ml mengandung:
Levofloxacin hemihydrate setara dengan Levofloxacin 500 mg

INDIKASI
Levofloxacin infus diindikasikan jika pemberian secara i.v memberikan keuntungan pada pasien (jika pasien tidak dapat mentoleransi bentuk sediaan oral). Levofloxacin diindikasikan untuk orang dewasa (≥ 18 tahun) dengan infeksi-infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yang sensitif pada kondisi sebagai berikut:

  • Sinusitis maxillaris akut.
  • Bronkitis kronik dengan eksaserbasi bakteri akut.
  • Pneumonia (community-acquired pneumonia).
  • Infeksi kulit dan struktur kulit tanpa komplikasi.
  • Infeksi saluran kemih dengan komplikasi.
  • Pyelonefritis akut.

Bila terjadi resistensi bakteri dan hasil terapi tidak memuaskan, pengobatan perlu disertai proses monitor bakteriologi.

  • Pasien yang hipersensitif terhadap Levofloxacin dan antibiotik quinolone.
  • Pasien epilepsi.
  • Pasien dengan riwayat gangguan tendon karena penggunaan fluoroquinolone.
  • Anak-anak di bawah 18 tahun.
  • Ibu hamil dan menyusui.

Dosis umum pada pasien dengan fungsi ginjal normal 250 – 500 mg sekali sehari, tergantung pada jenis dan tingkat keparahan infeksi dan sensitivitas patogen penyebab infeksi. Levofloxacin infus diberikan secara lambat melalui intravena. Pengobatan awal secara intravena dapat beralih ke pemberian oral setelah beberapa hari, tergantung pada kondisi pasien. Untuk pasien usia lanjut atau pasien dengan gangguan fungsi hati (tetapi fungsi ginjal normal), dosis yang diberikan sama dengan dosis dewasa normal.

Dosis bagi pasien dengan gangguan fungsi ginjal (bersihan kreatinin ≤ 50 mL/menit)

Bersihan kreatininDosis
> 50 ml/menit1 x 250 mg/24 jam
Tidak perlu penyesuaian dosis
1 x 500 mg/24 jam
Tidak perlu penyesuaian dosis
50 – 20 ml/menitDosis awal: 250 mg
Selanjutnya: 125 mg/24 jam
Dosis awal: 500 mg
Selanjutnya: 250 mg/24 jam
19 – 10 ml/menitDosis awal: 250 mg
Selanjutnya: 125 mg/48 jam
Dosis awal: 500 mg
Selanjutnya: 125 mg/24 jam
< 10 ml/menit (termasuk hemodialysis & CAPD)*Dosis awal: 250 mg
Selanjutnya: 125 mg/48 jam
Dosis awal: 500 mg
Selanjutnya: 125 mg/24 jam

*Tidak diperlukan penambahan dosis setelah hemodialisis dan CAPD

CARA PEMBERIAN

  • Levofloxacin infus adalah sediaan yang siap digunakan, diberikan secara infus intravena lambat. Waktu pemberian infus sediaan.
  • Levofloxacin infus 500 mg (100 mL) tidak boleh kurang dari 60 menit.
  • Levofloxacin infus tidak boleh dicampur dengan heparin atau larutan alkali (misalnya: NaHCO3).
  • Levofloxacin infus harus diberikan secara tunggal, kecuali gabungan larutan infus sudah dibuktikan kompatibilitasnya.
  • Pneumonitis alergi: syok anafilaktik, reaksi anafilaktoid, dyspnea, abnormalitas EEG, ensefalopati, eosinofilia, eritema multiform, anemia hemolitik, kegagalan fungsi organ yang multi sistem, palpitasi, paraesthesia, sindrom Stevens – Johnson, ruptur tendon dan vasodilatasi.
  • SSP: sakit kepala, kantuk, insomnia, gangguan tidur, anxietas, depresi, halusinasi dan reaksi psikotik, dyspepsia, tremor dan taste perversion.
  • Hati dan saluran cerna: mual, muntah, diare, konstipasi, flatulensi, nyeri abdomen, anoreksia.
  • Urogenital: genital moniliasis, lekore dan vaginitis.
  • Kulit/alergi: ruam kulit, gatal, urtikaria, edema, increased sweating.
  • Lain-lain: malaise, lelah.
  • Selama terapi dengan Levofloxacin pasien harus minum yang cukup untuk mencegah terjadinya konsentrasi yang pekat dalam urine.
  • Pemberian Levofloxacin pada penderita gangguan ginjal harus dengan observasi klinik yang baik dan perlu pemeriksaan laboratorium yang sesuai, dilakukan sebelum dan selama terapi. Juga diperlukan penyesuaian dosis untuk mencegah akumulasi Levofloxacin karena bersihan yang menurun.
  • Dapat terjadi reaksi fotosensitivitas. Karena itu penderita jangan terlalu lama kontak dengan sinar matahari atau sinar u.v buatan.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita yang diketahui/dicurigai memiliki gangguan SSP, karena sebagaimana golongan quinolone lainnya, Levofloxacin cenderung dapat menimbulkan serangan atau menurunkan ambang rangsang kejang (contoh: arteriosklerosis serebral berat, epilepsi) atau adanya faktor resiko lain yang cenderung menimbulkan serangan atau menurunkan ambang rangsang kejang (contoh: terapi obat, disfungsi ginjal).
  • Perlu dilakukan pemantauan kadar gula darah pada penderita yang mendapat terapi obat hipoglikemik atau insulin.
  • Selama terapi Levofloxacin jangka panjang, perlu dilakukan tes fungsi hati dan hematopoietik secara periodik.
  • Pemberian Levofloxacin harus segera dihentikan bila pasien merasa nyeri, mengalami peradangan, atau ruptur tendon.
  • Reaksi hipersensitivitas yang fatal dan serius dapat terjadi pada pemberian awal karena itu hentikan segera pengobatan bila terjadi ruam kulit atau tanda-tanda hipersensitivitas lainnya.
  • Diagnosis terhadap kolitis pseudomembranosa perlu dipertimbangkan pada pasien yang mengalami diare setelah pemberian antibakteri.
  • Hati-hati penggunaan pada penderita dengan aktivitas yang membutuhkan kepatuhan dan koordinasi mental yang optimal (seperti mengoperasikan mesin atau kendaraan bermotor) karena Levofloxacin dapat menyebabkan pusing.
  • Pemberian antasida oral yang mengandung Magnesium serta Sukralfat, logam kation, seperti Fe dan preparat multivitamin dengan Zinc harus dikonsumsi setidaknya 2 jam sebelum atau 2 jam setelah pemberian Levofloxacin.

Levofloxacin menunjukkan potensi yang rendah untuk toksisitas akut. Jika terjadi suatu overdosis akut lambung harus dikosongkan. Pasien harus diperhatikan dan hidrasi yang tepat dipertahankan. Levofloxacin tidak efisien dihilangkan dengan hemodialisis atau dialisis peritoneal.

Dalam penelitian tidak terlihat adanya interaksi bermakna antara Levofloxacin dengan Teofillin, Warfarin, Siklosporin, Digoksin, Probenesid dan Simetidin. Namun demikian penggunaan obat golongan quinolone lain bersama beberapa obat di atas menimbulkan perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik yang cukup bermakna. Karena itu perlu diperhatikan hal-hal berikut bila Levofloxacin diberikan bersamaan dengan:

  • Teofilin: monitor kadar teofilin secara ketat, bila perlu dilakukan penyesuaian dosis teofilin
    Warfarin: monitor waktu protrombin atau uji koagulasi lain yang sesuai.
  • Pemberian bersamaan dengan AINS dapat meningkatkan resiko stimulasi SSP dan serangan kejang
    Antidiabetic Agent: gangguan glukosa darah termasuk hiperglikemia dan hipoglikemia. Oleh karena itu dianjurkan untuk memantau gula darah dengan ketat ketika digunakan bersamaan.
  • Pengaruh terhadap glukosa darah termasuk hiperglikemia dan hipoglikemia telah dilaporkan pada pasien yang mendapat obat golongan quinolone bersama antidiabetik oral. Karena itu dianjurkan memantau glukosa darah secara ketat.
  • Levofloxacin dapat menghambat pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis, karena itu dapat memberikan hasil negatif palsu pada diagnosa tuberculosis.

BENTUK SEDIAAN
Infus

KEMASAN
Dus, 1 vial @ 100 mL
No.Reg. DKL 1616112049A1

Simpan pada suhu di bawah 30 ºC

HARUS DENGAN RESEP DOKTER